Langsung ke konten utama


 CAPPUCINNO
 Oleh:
Beng-Beng

 
Hujan turun deras saat aku baru saja menyalakan komputer. Kamar yang awalnya riuh dengan suara hujan kini bertambah ramai Berpadu dengan suara musik dari speaker komputer. Dan itu membuatku merasa nyaman. Ditambah dengan secangkir cappucinno, membuat sore hari ini makin Nikmat. Hmmmmm, social network akhir-akhir ini membuatku kecanduan komputer. Belum lagi kesukaanku melihat koleksi foto teman-teman. Terutama foto Radit, seniorku di Sekolah.

Belum lima menit aku membuka akun social network, ponselku berbunyi. Dari Radit! Aku mengatur napasku yang memburu kegirangan. lalu membuka pesannya,
"Naila, kutunggu di Cafe Tepian Ancol. There's important thing we must to talk"
Tak peduli hujan yang turun deras, kusambar sweather dan kunci Sekuterku. Sebelum pergi, terlebih dulu kupoles mukaku dengan bedak dan menyemprot tubuhku dengan parfum. Meskipun terburu-buru, aku masih ingat siapa yang akan kutemui.. bisa dibilang Radit-lah orang yang menjadi obsesiku selama hampir setahun ini.



Awalnya degup jantungku cukup normal, tanganku juga tidak sedingin es. Tapi setelah aku duduk di salah satu bangku Cafe Di Tepi sungai ini, semuanya berubah! Pertama, napasku memburu. Kedua, keringat dingin membasahi wajah dan tanganku sehingga aku harus berulang kali mengeringkannya dengan tisu yang ku peroleh dari atas meja. Ketiga, aku merasa ada yang salah dengan kak Radit.

Radit memang seniorku. Biasanya senior tidak terlalu dekat dengan juniornya, apalagi junior sepertiku. Hmm, aku bukan cewek gaul seperti perempuan-perempuan yang ada di sekelilingnya, aku hanya gadis remaja yang ingin bergabung di komunitas yang sama dengan kak Radit.Tapi akhir-akhir ini kami cukup dekat. Selain berkomunikasi lewat social network, Radit kerap kali mengirim pesan pendek padaku.

Radit bukan tipe orang yang suka datang terlambat. Tapi kini? Dia terlambat hampir satu jam dan membuatku menunggu lama. Adzan maghrib berkumandang 15 menit lalu. Maka aku meninggalkan meja menuju musholla terdekat, dan menunaikan ibadah wajibku.

Sekembalinya aku dari musholla, aku melihat Radit disana! Di bangku yang sama dengan senyum indahnya dan mata cokelat yang selalu memberikan rasa teduh kepadaku. Sore itu Radit tampak menawan dengan kaus biru, celana jeans, dan sneakers. Aku duduk di depan Radit, mencoba mengatur napasku yang memburu lagi. Kupesan segelas cappucinno untukku.
"Lama?" tanyanya memecah kesunyian,
"Hmm..cukup," aku tersenyum padanya.

Pandangan mataku teralih pada televisi yang dipasang di ujung Cafe. Televisi tersebut sedang memutar acara berita yang menampilkan sepeda Motor hijau yang tergelincir di jalanan licin dan menabrak pohon besar. Di acara tersebut,aku melihat bagaimana usaha para tim dokter untuk menyelamatkan pengendaranya yang diduga masih remaja. Pengendara itu tampaknya terluka parah, bahkan bisa meninggal dalam waktu dekat. Sementara sepeda motor berwarna hijau sudah hancur dan masih berada di sisi jalan. Tunggu sebentar ...
"Radit, itu Motor kamu ?" tanyaku konyol, diiringi desahan ketakutan.
"Pabrik nggak produksi satu mobil yang sama, Naila," dia terbahak.
"Jadi, apa important thing yang kamu maksud?" tanyaku setelah cappucinno pesananku datang.

Tegukan cappucinno yang pertama, sebuah kehangatan datang.Dalam hati kecilku, entah darimana asalnya, aku berbisik bahwa aku mneyukai Radit. aku suka segala hal tentang Radit.
"Naila, aku suka kamu,"
Tegukan cappucinno kedua, aku seperti bersorak dari dalam cangkir cappucinno-ku. sebuah keteduhan dan ketenangan datang. Dari mata cokelat Radit, aku tahu itu benar. Dari senyum Radit, aku tahu dia jujur, dan dari perasaanku, aku hanya berbisik dalam hati bahwa aku bahagia, aku tak ingin waktu ini berlalu.

aku hanya diam. tak tahu apa yang sebaiknya kukatakan. Aku mengangkat mukaku, menatapnya. Untuk yang pertama kalinya, aku melihat ketulusan dari matanya. dari mata yang sebelumnya selalu kuperhatikan diam-diam.

Tiba-tiba seorang waitress menepuk pundakku. Aku menoleh, dan meletakkan cangkir cappucinno diatas tatakan,. "Mbak sudah ada disini selama 30 menit, dan selama itu Mbak menghabiskan waktu dengan berbicara sendiri," dia menoleh ke belakang, mengikuti arah langkah seorang laki-laki bertubuh besar... "inspektur dari polisi setempat ingin berbicara dengan anda,"

Laki-laki yang disebut waitress tadi mendekatiku, lalu dengan gerakan cepat dia menunjukkan lencana polisi. aku tahu sesuatu telah terjadi, dan itu menyangkut Radit! aku menoleh kearah Radit, dan aku melihat dia tersenyum padaku. "anda Naila, teman Raditya dengan pemilik Sepeda motor hijau bernopol BH5501SF ?" aku mengangguk perlahan.
"Teman anda, Raditya Ghani mengalami kecelakaan berat. Kendaraannya Menghantam Pohon besar di tepi jalan, dan satu-satunya nomor telepon yang Baru di hubungi ada di kontak ponselnya hanya anda. Setelah kami cek, ternyata anda ada disini. Kami hanya ingin anda cepat-cepat mengunjungi almarhum dan menghubungi keluarga Radit. Kami perlu persetujuan orangtua untuk melakukan otopsi,"
Radit tidak ada di hadapanku! Hanya ada senyumannya yang masih kuingat.
Tegukan cappucinno yang terakhir, Pahit, semuanya dingin, gelap, dan kelabu. Tak ada lagi luapan rasa bahagia, tak ada lagi mata cokelat Radit, dan tak ada lagi senyum keteduhan dari Radit. Semuanya hancur! melebur jadi satu!



Skrip dialog di atur di lokasi syuting!
jadi gak perlu ngetik banyak, cape ngetik hahahaha

Komentar